Tampilkan postingan dengan label pengantar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pengantar. Tampilkan semua postingan

Jumat, 07 September 2007

Pengantar Psi. Perkembangan Manusia

Bahan: Chapter 1-3 (buku?)
Diupload oleh: Ewa


Sesi 1
Perubahan dan stabilitas terjadi pada 3 domain perkembangan (fisik, kognitif, dan psikososial) selama rentang kehidupan manusia. Paul B. Baltes mengemukakan 6 prinsip dalam melihat suatu proses perkembangan ini yaitu berlangsung seumur hidup, ada sesuatu yang didapat namun ada juga yang hilang, dipengaruhi oleh kemauan individu untuk mengalokasikan kemampuannya, bersifat plastis, dan dipengaruhi oleh biologis, konteks sejarah dan budaya.

Untuk menjelaskan proses perkembangan manusia secara lebih mendalam dan komprehensif, setiap tahap usia akan dibahas dengan menggunakan 5 teori utama (psikoanalisis, belajar, kognitif, evolusi/sosiobiologis, dan kontekstual). Pemahaman mengenai pendekatan kualitatif dan kuantitatif serta pengambilan data secara cross sectional, longitudinal, dan sequential menjadi sangat penting mengingat ilmu tentang manusia harus selalu diperbaharui melalui penelitian-penelitian.

Dalam perkembangan manusia, yang menjadi awal adalah masa konsepsi, dimana sperma dan ovum bersatu. Setelah itu, gen dan lingkungan akan terus mempengaruhi perkembangannya. Saat bayi, perkembangan akan terlihat dari kepala ke kaki (cephalocaudal), kemudian dari tengah ke pinggir (proximodistal).

Kamis, 30 Agustus 2007

Pengantar Psi. Belajar

Sesi 1.
Behaviorist berargumen bahwa objek psikologi yang tepat adalah tingkahlaku, karena bisa diobservasi sehingga bisa diukur, bukan mind, karena tidak bisa diobservasi maupun diukur (pengukuran mind --operasi mental-- baru dilakukan oleh ilmuwan kognitif). Behaviorist percaya bahwa: pertama, munculnya tingkah laku memiliki pola (lawful) sehingga dapat dipelajari dan diprediksi; kedua, bahwa tingkahlaku dimunculkan oleh lingkungan (prinsip determinisme), bukan oleh kehendak diri (free-will). Penelitian-penelitian kognitif menunjukkan bahwa tingkahlaku dimunculkan bukan oleh lingkungan, tapi oleh interaksi sel-sel saraf (neural determinisme). Menemukan pola tersebut dapat menggunakan antara lain metode introspeksi dan eksperimen (yang dilakukan oleh Behaviorist).

Secara khusus, Behaviorist meneliti perubahan tingkahlaku akibat pengalaman (learning) --teori yang dikembangkan dari batasan ini disebut sebagai psikologi belajar. Psikologi belajar menunjukkan bahwa tingkahlaku individu mungkin berubah setelah menemukan hubungan antara dua atau lebih kejadian --disebut associative learning. Pavlov menemukan bahwa tingkahlaku dapat berubah setelah individu menemukan asosiasi antara dua stimulus (Dimitri, anjing Pavlov, yang tadinya tidak meliur ketika mendengar bel, menjadi meliur ketika mendengar bel karena secara konsisten bunyi bel muncul bersamaan dengan makanan) --disebut classical conditioning. Skinner, menemukan bahwa tingkahlaku laku individu dapat berubah sesuai dengan stimulus yang mengikutinya (bila stimulusnya menyenangkan, frekuensi tingkahlaku meningkat; bila tidak menyenangkan, frekuensi berkurang).

Learning terjadi dalam 3 tahap: acquisition, storage, retrieval. Beberapa hal --seperti motivasi, sensasi, habituasi, adaptasi sensoris, karakter fisiologis, fatigue, state-dependent learning-- mungkin terkandung dalam sebuah perubahan tingkahlaku sehingga tidak semua perubahan tersebut bisa disebut sebagai hasil learning. Tingkahlaku yang bukan hasil belajar misalnya: reflex, insting, imprinting.